Sabtu, 03 Januari 2015

Profil Safira : Ingin Jadi Penyelamat

0 komentar


Bercita-cita menjadi dokter
Ingin Jadi Penyelamat
Rahma-Safira


Gadis bernama lengkap Safira Nurul Khotimah, lahir pada 5 Agustus 1998. Anak kedua dari 2 bersaudara ini, kini tengah menempuh pendidikan di SMA Negeri 3 Cilacap, dan menduduki bangku kelas XI. Perempuan berusia 16 tahun ini tinggal di Jl. Rama No. 40, Gumilir, Cilacap. Kala itu, Safira bersama keluarganya tengah berlibur ke Jogja.

Safira merupakan siswa yang cukup aktif di sekolahnya, selain menjadi anggota organisasi rohis (Rohani Islam), perempuan kelahiran Cilacap ini juga aktif di kegiatan PMR dan KIR. Di Rohis, Safira berperan dalam divisi dewan dakwah, yaitu divisi yang menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan penyiaran dakwah. Gadis yang memiliki hobi membaca dan menonton film ini merupakan seorang yang cukup pintar, beberapa kali ia ditunjuk untuk mengikuti CCA (Cerdas Cermat Agama) di sekolahnya.

Jiwa sains dalam diri Safira memang sudah terbentuk, sifatnya yang selalu merasa penasaran akan hal-hal baru, membuat gadis penyuka Cappucino Cincau dan kentang goring ini suka melakukan penelitian dengan mengikuti ekskul KIR di sekolahnya.

Selain KIR, Safira memilih ekstrakurikuler PMR karena ia sendiri bercita-cita menjadi dokter. “Aku ikut PMR biar bisa latihan jadi dokter, agar jiwa dokterku terbentuk sejak dini” ungkapnya sambil tertawa. Ia ingin menjadi dokter agar bisa menyembuhkan orang-orang yang sakit dan menyelamatkan orang-orang sebisa mungkin, selain itu ia berkeinginan untuk merawat orang tuanya jika mereka sudah tua kelak. Bagi Safira, orang tua merupakan segala-galanya, “Ibu dan ayah telah mendidikku dari kecil hingga saat ini,” tambah perempuan berparas manis ini . Oleh karena itu ia bersungguh-sungguh mengejar cita-cita agar bisa membanggakan orang tuanya.

Profil Lentik : Orang Tua Jauh, Jadikan Sebagai Motivasi

0 komentar



Orang Tua Jauh, Jadikan Sebagai Motivasi

Lentik-Rahma


          

Lentik Indah Aswari merupakan putri pertama dari 2 bersaudara. Lahir di Yogyakarta pada 20

Februari 1997, kini gadis berjilbab ini telah duduk di bangku kuliah, saat ini ia sedang menempuh studi di jurusan PGSD di UAD (Universitas Ahmad Dahlan). Perempuan berusia 17 tahun ini tinggal di Purwokinanti PA1/219, Pakualaman Yogyakarta. Bersama eyang, Lentik tinggal di Yogyakarta, sedangkan orang tuanya berada di Cilacap.

Sesuai pendidikan yang  telah ia tempuh selama satu semester ini, Lentik bercita-cita menjadi guru. Ia ingin mencerdaskan anak-anak bangsa, ia juga ingin memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia, terutama yang berada di daerah pelosok sana. “Aku ingin menjadi guru yang baik bagi nusa bangsa,” ujar penggemar film edukasi ini.

Pecinta nasi goreng dan mi ayam ini menjadikan orang tua sebagai motivasi hidupnya. Jarak yang memisahkan mereka bukan jadi penghalang bagi Lentik untuk menggapai cita-citanya,  namun justru sebagai motivasi dan penyemangat hidup. Lentik mengaku bahwa ia mengobati rindu kepada orang tuanya di Cilacap dengan belajar. Hal tersebut akan membuatnya tenang, karena ia akan mengingat amanah orang tuanya untuk menempuh studi di Yogyakarta.

Untuk menggapai cita-citanya menjadi guru, perempuan yang saya temui di sebuah toko buku ini  berpegang pada motivasi hidupnya, “ Don’t give up, kita harus selalu berusaha agar menjadi yang terbaik,” ungkap Lentik sembari memilih-milih buku.

Jumat, 02 Januari 2015

Profil Lita : Orang Tua Prioritas Utama

0 komentar
Berusaha Memenuhi Keinginan Ayah
Orang Tua Prioritas Utama
Lita- Rahma
Vidia Lita Sari, atau yang kerap disapa Lita merupakan anak pertama dari 2 bersaudara dari pasangan Tri Widayati dan Suparman (Alm). Gadis kelahiran Sleman, 28 Mei 1999 ini sekarang telah menjadi siswi kelas X di SMA Negeri 6 Yogyakarta. Beralamatkan di desa Tegalrejo, Sidoluhur, Godean, Sleman, perempuan mungil berjilbab yang berusia 15 tahun ini cukup aktif dalam kegiatan pemuda-pemudi desanya, contohnya mengikuti acara bakar-bakar menyambut tahun baru 2015.
Lita mengaku bahwa dirinya merupakan sosok yang cerewet dan suka bertanya, hal tersebut menjadikannya sebagai siswi yang lumayan aktif di sekolahnya. Lita bergabung di ekstrakurikuler KIR (Karya Ilmiah Remaja) di SMA yang dikenal dengan sebutan ‘Namche’ itu, alasannya karena sekolahnya terkenal sebagai sekolah research (penelitian), sehingga membuat Lita tertarik dengan hal-hal berbau penelitian. Pecinta masakan yang seger-seger ini termasuk remaja yang cukup berprestasi, terbukti dengan masuknya Lita dalam peringkat 10 besar di kelasnya.
Gadis imut dan mungil dengan berat badan 38 kilo ini merupakan sosok yang periang dan sangat ramah, ia mengaku suka tersenyum pada orang-orang yang ia temui, bahkan sering menyapa kakak-kakak kelasnya ketika lewat. Sebenarnya Lita bercita-cita untuk menjadi dokter, namun ayahnya berkeinginan agar putri sulungnya ini menjadi jaksa atau hakim kelak, oleh karena itu Lita pun pada akhirnya berusaha untuk memenuhi keinginan orang tuanya.
“Ya, akhirnya aku mau jadi jaksa aja, soalnya kan keinginan dari ayahku,” ujarnya dengan suara imut yang khas. Lita berpendapat bahwa orang tua adalah segalanya, jadi apapun itu, orang tua harus dijadikan sebagai prioritas yang utama.
                                                        

Nusaiba : Pegang Kepercayaan Dengan Belajar

0 komentar
Nusaiba, bendahara Rohis Al-Ukhuwah
Memegang Kepercayaan dengan Belajar
Nusaiba- Rahma

Seorang gadis berjilbab duduk di serambi Mushola, kemudian meneguk air mineral yang ia bawa. Namanya Nusaiba Azzahira, gadis ini merupakan siswi kelas XI di SMAN 1 Tebing Tinggi, Sumatra Utara. Lahir di Sumatra Utara pada 21 April 1997, remaja yang memiliki hobi tidur, jalan-jalan, membaca buku, dan mencari pengalaman baru ini bercita-cita menjadi seseorang yang bekerja di bidang kesehatan.

Anak ke 4 dari 7 bersaudara dari pasangan ibu seorang guru swasta dan ayah yang bekerja sebagai DPRD Sumatra Utara ini rupanya cukup aktif di sekolahnya. Gadis dengan panggilan Nusaiba ini mengaku dipercayai menajdi sebagai bendahara di Rohis Al-Ukhuwah, organisasi keagamaan di sekolahnya.

                Menggendong amanah yang cukup besar, Nusaiba mengaku bingung saat pertama kali ditunjuk menjadi bendahara. Mau tak mau pun Nusaiba harus mampu menjaga kepercayaan itu dengan kuat. Oleh karena itu, ia aktif mencari referensi dari berbagai daerah, kemudian belajar dari rohis-rohis di sekolah lain di seluruh Indonesia. Terbukti dengan hadirnya Nusaiba di acara Silatnas Chapter Jogja, yang diadakan oleh Fornusa (Forum Antar Rohis Nusantara) di XT Square pada 24 Desember 2014 lalu.

“Sebagai bendahara rohis, aku harus banyak belajar dari rohis-rohis di sekolah lain, makanya aku ikut Silatnas di Jogja ini,” ungkap Nusaiba yang mengaku senang dengan udara di Jogja yang sejuk.  Nusaiba jauh-jauh datang dari Sumatra Utara demi dapat melihat anak-anak rohis dari seluruh nusantara, sehingga dapat dijadikan bahan referensi. Rupanya tanggung jawab yang besar membuat gadis berumur 17 tahun ini banyak belajar dari pengalaman.
               







Puisi : Teruntuk Engkau

0 komentar
Teruntuk dikau, raja dari segala kesakitan
Berkelana dengan seribu tanya, mengacungkaan pedang, takut hatinya terbunuh
Teruntuk engkau, pangeran ketakutan
Dalam lunglaimu, jutaan peluh basahi perasaan
Lalu kau tak mau keluar, apa kau takut?
Teruntuk dikau, kesatria yang kalah perang
Lari dibawa kuda, menutup telinga, menutup mata. Kesetanan
Apakah bayangan itu mengejarmu? Begitu takutkah dirimu akan hari kemarin?
Teruntuk pria, yang gagal dan jatuh
Tenggelam begitu dalam, sangat menyedihkan
Begitukah rasa takutmu, hingga luka itu mengeras, menempel pada dinding-dinding hatimu, hingga kau tak punya nyali  untuk membuka kembali?

Kamis, 01 Januari 2015

Dikejar?

0 komentar

Dikejar?
Malam ini rumah terasa sepi, ayahku pergi ke Bali. Mama menonton TV sedangkan kakakku belajar untuk UAS besok. Aku menghabiskan waktu di kamar, benar-benar tidak sehat seharian ini, tidur-bangun-tidur-bangun-makan-tidur-bangun, namun apa boleh buat? Hingga saat ini saja kantukku belum sembuh akibat begadang pada malam tahun baru kemarin. Oh iya, sekarang tanggal 1 Januari 2015, selamat tahun baru, dunia maya, orang tua, keluarga, guru-guru, teman-teman, dan juga kamu :3
Seperti yang kutuliskan sebelumnya, malam tahun baru kuhabiskan di rumah sahabatku, Lela. Tahun baru tinggal 2 jam lagi, ketika kami memutuskan untuk ke luar rumah, membeli air mineral karena tenggorokan kami serak akibat kebanyakan makan chiki. Dengan dua motor, kami berbonceng-boncengan untuk mencari indomaret terdekat (yang tetap saja jauh). Aku membonceng Nadiaz, sementara Icha berboncengan dengan Lela. Menembus dingin dan gelapnya malam, kami pun sedikit ngebut, alasannya takut. Entah takut hantu atau takut dengan gondes yang ngangkring di pinggir jalan.
Setelah beberapa lama memblusuki desa-desa, akhirnya kami menembus jalan raya. Sedikit menurunkan kecepatan untuk mencari indomaret yang ternyata TUTUP. Kami kesal kemudian memutuskan untuk pergi ke arah timur, mencari indomaret yang lain. Hingga pada akhirnya kami melihat sebuah warung kecil, namun dari jauh kelihatannya lengkap isinya. Kami pun menyebrang jalan dan berhenti di depan warung tersebut. Entah sudah sejak tadi atau baru saja, yang jelas kami awalnya tidak sadar, ada banyak gondes akut sedang menangkring di atas motor mereka sambil bersiul-siul. “Hei mbak, hei mbak” begitu kata mereka sambil bersiul-siul. Tak satu pun dari kami melirik ke arah the gondes itu, kami sangat ketakutan. Dengan tangan gemetar dan tubuh menggigil, kami langsung mengambil 2 botol air mineral besar dan segera membayarnya. Para gondes itumasih saja menggoda kami, dengan gugup dan terburu-buru kami langsung menaiki motor kami dan ingin saja segera menghilang dari tempat itu.
Kulihat para gondes itu menancapkan kunci motor mereka masih sambil memanggil-manggil kami dengan sebutan ‘mbak’. Bayang-bayang kejadian menakutkan terlintas di pikiranku, aku dan diaz lagsung pancal sejauh-jauhnya dan secepatg-cepatnya, sementara Lela dan Icha menyusul di belakang. Entah halusinasi atau apa, yang jelas aku dan Nadiaz mendengar suara motor berbondong bondong ngebut di belakang kami. Aku tak berani melihat ke belakang. Kami berteriak-teriak, menyebut nama Allah.
Siapapun itu yang dibelakang kami, dari gondes manapun itu, semoga tidak membawa pedang, ya Allah. Doaku dalam hati kala itu. Suara-suara motor itu semakin keras dan semakin mendekat, aku dan Nadiaz membaca surah Al-Fatihah sambil menggigil. Tidak terasa sampai-sampai aku ngeces. Bagaimana nasib Lela dan Icha di belakang sana? Bagaimana nasibku dan Diaz nanti? Oh Tuhan, aku benar-benar tidak sanggup membayangkannya. Jalanan sangat gelap, hingga kami kebingungan mencari pertigaan tempat kami belok menuju desa Lela. Rasanya jadi jauh sekali. Setelah ketemu, dengan sedikit mendadak kami belok. Barulah saat itu aku berani menoleh kebelakang.
9 detik setelahnya, Lela dan Icha muncul di belakang. Huft, begitu leganya aku dan Diaz. Kulihat wajah Lela yang berseri-seri dan segar, sedangkan Icha sedang senyum-senyum bermain Hp. Kok? Kok bisa? Memangnya mereka tidak takut? Atau aku dan Diaz saja yang lebay nggak ketulungan? Aku dan Diaz terheran-heran dengan pola pikir mereka, di situasi yang genting seperti ini, bisa-bisanya mereka santai, sedangkan aku dan Diaz sudah berteriak-teriak seakan mau mati saja.
“Lha wong nggak ada yang ngejar kita, kok” kata Icha santai, lalu lanjut bermain hape.
Gubrak! Aku dan Diaz mlengos.
 

Satu Cangkir Teh Tawar Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template