Senin, 05 Januari 2015
Poetry For You
For mom, dad,
There is a lot of love in your eyes
A faith full pray in your cries
You shine my life like a sunrise
And in every your word, it’s always wise
You dry up my tears when a problem comes
You hug me when my heart is gloomy
You hold my hand when I don’t feel fine
You are the best thing I’ve ever have
A bright shine of my life
A warm smile that makes me feel safe
Minggu, 04 Januari 2015
Jatuh Cinta
JATUH CINTA
Biarkan saja perasaan ini tetap pada posisinya, tak usah kau coba untuk mengubahnya. Jangan pernah takut akan sakit hati, karna hati bukanlah kucing yang selalu dimanja, hati butuh rasa-rasa menyakitkan seperti itu untuk menjadikannya kuat, agar tidak kaget bila mendapat hantaman yang lebih besar kelak.
Jangan pernah takut cemburu, karena cemburu merupakan ukuran cinta seseorang, semakin tinggi tingkat cemburu itu, semakin besar pula rasa cinta yang kau miliki. Jila tak mau cemburu, jangan pernah berani jatuh cinta. Memangnya hidup itu sempurna?!
Tak usah takut ditolak, tidak semua manusia itu beruntung. Penolakan cinta sebenarnya merupakan salah satu jalan bagi kita untuk bercermin, sudah cukup baik kah? Cukup mapan kah? Cukup tampan kah? Cukup cinta kah? Hadapi, terima, dan jalani saja apapun itu keputusannya. Jika kau ditolak, kau boleh menangis, boleh marah, boleh sakit hati. Bukankah sudah kubilang untuk tidak takut sakit hati? Menangis dan marah lah hingga sakit itu hilang sendirinya, hatimu mungkin memang sedang perlu disakiti.
Namun jangan pernah menyesal untuk jatuh cinta, jangan pernah menutup hatimu dengan luka yang kau buat-buat sendiri, luka yang kau tumbuhkan karna kau menyesal jatuh cinta padanya. Jangan. Biarlah sakit maupun indahnya cinta berjalan seiringan dengan kehidupanmu. Jangan berharap indahnya saja, apalagi sakitnya. Percayalah itu semua merupakan pemberian Tuhan yang kau butuhkan. Cinta tanpa sakit dan benci itu film barbie, benci tanpa cinta itu psikopat.
Selamat hari Minggu.
Sabtu, 03 Januari 2015
Gengsi
Ingin sekali rasanya memuji, tapi tidak mau kalau dia merasa bangga dan senang? Ingin sekali meminta bantuan, namun masa meminta tolong pada yang lebih lemah? Ingin sekali berterima kasih, namun tidak suka terlihat lemah?
Apa salahnya mengatakan apa adanya yang ada pada perasaan kita? Pada hati dan pikiran kita? Mengapa terkadang kita meremehkan hal yang hebat, padahal hati dan pikiran kita sebenarnya mengagumi? Itulah yang disebut gengsi. Sebuah penyakit hati tentang harga diri yang maunya tinggi. Manusia biasanya mengatakan Enggak tuh, biasa saja saat melihat lukisan sang musuh yang bagus, atau bahkan kecantikan pada sahabatnya sendiri. Gengsi merupakan penyakit kelanjutan dari iri dan dengki. Jika suda iri, tak ada yang baik dalam diri orang itu, entah itu musuh atau bahkan sahabat terdekat kita sendiri, berat sekali rasanya memberi pujian. Yang keluar justru hinaan yang menyakitkan hati. Semata-mata karena kita sebenarnya ingin seperti mereka, ingin memiliki apa yang mereka punya.
Untuk apa kita merasa gengsi akan hal-hal seperti itu? Bukan berarti manusia itu jahat, namun manusia hanya tidak suka melihat manusia yang lain senang. Sifat-sifat itu lah yang merusak generasi, yang merusak bangsa, merusak alam, merusak bumi, dunia, bahkan merusak manusia itu sendiri. Namun memang Tuhan tak menciptakan manusia untuk menjadi sempurna, sifat-sifat itu diletakan pada hati manusia, agar kita mampu melihat dan melakukan kebaikan. Karena kebaikan tak akan terlihat tanpa kita merasakan kejahatan terlebih dulu. Yang dapat kita lakukan yaitu sebisa mungkin menghapus kerak-kerak kejahatan yang mendasar pada hati dan jiwa kita, agar menjadikan kita manusia yang berperan sebagai manusia.
Profil Rinda : Tertantang Rumitnya Biologi
Ingin Jadi Dokter
Tertantang Rumitnya Biologi
![]() |
| Rinda-Rahma |
Rinda Gustanti tengah mengantri mukena di mushola saat saya mendatanginya. Perempuan ini lahir di Magetan pada 3 November 1997, Rinda merupakan anak ke 2 dari 2 bersaudara dari keluarga Bapak Gusto. Gadis Jawa Timur ini kini duduk di bangku kelas XII di SMA Negeri 1 Masopati. Rinda bersama kelurganya tinggal di Dusun Jajar, Katoharjo, Magetan. Saat itu, Rinda bersama teman-temannya sedang menghadiri acara rohis se-nusantara di XT Square, Jogjakarta.
Dara berusia 17 tahun ini rupanya bercita-cita menjadi dokter, namun ia merasa sedikit pesimis karena rata-rata rapotnya kurang aman untuk lolos SNMPTN. Meski demikian, Rinda selalu berusaha keras untuk mewujudkan cita-citanya. Baginya, dokter merupakan pekerjaan yang menantang karena harus menyelamatkan hidup banyak orang. Rinda berharap jika menjadi dokter kelak, ia ingin membuka praktek di daerah tertinggal, agar bisa membantu mereka yang tidak mempunyai biaya untuk berobat. Di samping itu, pelajaran biologi lah yang membuatnya tertarik menjadi dokter, Aku suka pelajaran biologi. Menurutku tubuh makhluk hidup itu unik banget, semakin kita pelajari, semakin bikin penasaran, aku jadi sangat tertantang dengan biologi. Maha Suci Allah yang menciptakannya begitu sempurna dan rumit ujar pecinta jogging itu lembut.
Impian tak begitu saja tergantung tinggi bagi Rinda, ia perlahan-lahan mewujudkan impian-impiannya dengan prestasi yang ia miliki. Sosok yang mudah bergaul ini pernah meraih juara kelas, mendapat juara harapan 3 pada lomba di tingkat kabupaten, dan juga juara 2 lomba cerdas cermat. Tak hanya itu, Rinda merupakan siswa yang cukup aktif di sekolah, terbukti dengan pernah menjabatnya Rinda sebagai bendahara umum di Formasi masa jabatan 2013-2014.
Profil Safira : Ingin Jadi Penyelamat
Bercita-cita
menjadi dokter
Ingin Jadi Penyelamat
![]() |
| Rahma-Safira |
Gadis bernama
lengkap Safira Nurul Khotimah, lahir pada 5 Agustus 1998. Anak kedua dari 2
bersaudara ini, kini tengah menempuh pendidikan di SMA Negeri 3 Cilacap, dan
menduduki bangku kelas XI. Perempuan berusia 16 tahun ini tinggal di Jl. Rama
No. 40, Gumilir, Cilacap. Kala itu, Safira bersama keluarganya tengah berlibur
ke Jogja.
Safira
merupakan siswa yang cukup aktif di sekolahnya, selain menjadi anggota organisasi
rohis (Rohani Islam), perempuan kelahiran Cilacap ini juga aktif di kegiatan PMR
dan KIR. Di Rohis, Safira berperan dalam divisi dewan dakwah, yaitu divisi yang
menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan penyiaran dakwah. Gadis
yang memiliki hobi membaca dan menonton film ini merupakan seorang yang cukup
pintar, beberapa kali ia ditunjuk untuk mengikuti CCA (Cerdas Cermat Agama) di
sekolahnya.
Jiwa sains
dalam diri Safira memang sudah terbentuk, sifatnya yang selalu merasa penasaran
akan hal-hal baru, membuat gadis penyuka Cappucino Cincau dan kentang goring ini
suka melakukan penelitian dengan mengikuti ekskul KIR di sekolahnya.
Selain KIR, Safira
memilih ekstrakurikuler PMR karena ia sendiri bercita-cita menjadi dokter. “Aku
ikut PMR biar bisa latihan jadi dokter, agar jiwa dokterku terbentuk sejak dini”
ungkapnya sambil tertawa. Ia ingin menjadi dokter agar bisa menyembuhkan
orang-orang yang sakit dan menyelamatkan orang-orang sebisa mungkin, selain itu
ia berkeinginan untuk merawat orang tuanya jika mereka sudah tua kelak. Bagi
Safira, orang tua merupakan segala-galanya, “Ibu dan ayah telah mendidikku dari
kecil hingga saat ini,” tambah perempuan berparas manis ini . Oleh karena itu
ia bersungguh-sungguh mengejar cita-cita agar bisa membanggakan orang tuanya.
Profil Lentik : Orang Tua Jauh, Jadikan Sebagai Motivasi
Orang
Tua Jauh, Jadikan Sebagai Motivasi
![]() |
| Lentik-Rahma |
Lentik Indah
Aswari merupakan putri pertama dari 2 bersaudara. Lahir di Yogyakarta pada 20
Februari 1997, kini gadis berjilbab ini telah duduk di bangku kuliah, saat ini ia sedang menempuh studi di jurusan PGSD di UAD (Universitas Ahmad Dahlan). Perempuan berusia 17 tahun ini tinggal di Purwokinanti PA1/219, Pakualaman Yogyakarta. Bersama eyang, Lentik tinggal di Yogyakarta, sedangkan orang tuanya berada di Cilacap.
Sesuai
pendidikan yang telah ia tempuh selama
satu semester ini, Lentik bercita-cita menjadi guru. Ia ingin mencerdaskan
anak-anak bangsa, ia juga ingin memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia,
terutama yang berada di daerah pelosok sana. “Aku ingin menjadi guru yang baik
bagi nusa bangsa,” ujar penggemar film edukasi ini.
Pecinta nasi goreng
dan mi ayam ini menjadikan orang tua sebagai motivasi hidupnya. Jarak yang
memisahkan mereka bukan jadi penghalang bagi Lentik untuk menggapai
cita-citanya, namun justru sebagai
motivasi dan penyemangat hidup. Lentik mengaku bahwa ia mengobati rindu kepada
orang tuanya di Cilacap dengan belajar. Hal tersebut akan membuatnya tenang,
karena ia akan mengingat amanah orang tuanya untuk menempuh studi di
Yogyakarta.
Untuk
menggapai cita-citanya menjadi guru, perempuan yang saya temui di sebuah toko buku ini berpegang pada motivasi hidupnya, “
Don’t give up, kita harus selalu berusaha agar menjadi yang terbaik,” ungkap
Lentik sembari memilih-milih buku.
Jumat, 02 Januari 2015
Profil Lita : Orang Tua Prioritas Utama
Berusaha
Memenuhi Keinginan Ayah
Vidia
Lita Sari, atau yang kerap disapa Lita merupakan anak pertama dari 2 bersaudara
dari pasangan Tri Widayati dan Suparman (Alm). Gadis kelahiran Sleman, 28 Mei
1999 ini sekarang telah menjadi siswi kelas X di SMA Negeri 6 Yogyakarta. Beralamatkan
di desa Tegalrejo, Sidoluhur, Godean, Sleman, perempuan mungil berjilbab yang
berusia 15 tahun ini cukup aktif dalam kegiatan pemuda-pemudi desanya,
contohnya mengikuti acara bakar-bakar menyambut tahun baru 2015.
Lita
mengaku bahwa dirinya merupakan sosok yang cerewet dan suka bertanya, hal
tersebut menjadikannya sebagai siswi yang lumayan aktif di sekolahnya. Lita
bergabung di ekstrakurikuler KIR (Karya Ilmiah Remaja) di SMA yang dikenal
dengan sebutan ‘Namche’ itu, alasannya karena sekolahnya terkenal sebagai
sekolah research (penelitian), sehingga membuat Lita tertarik dengan hal-hal
berbau penelitian. Pecinta masakan yang seger-seger ini termasuk remaja yang
cukup berprestasi, terbukti dengan masuknya Lita dalam peringkat 10 besar di
kelasnya.
Gadis
imut dan mungil dengan berat badan 38 kilo ini merupakan sosok yang periang dan
sangat ramah, ia mengaku suka tersenyum pada orang-orang yang ia temui, bahkan
sering menyapa kakak-kakak kelasnya ketika lewat. Sebenarnya Lita bercita-cita
untuk menjadi dokter, namun ayahnya berkeinginan agar putri sulungnya ini
menjadi jaksa atau hakim kelak, oleh karena itu Lita pun pada akhirnya berusaha
untuk memenuhi keinginan orang tuanya.
“Ya,
akhirnya aku mau jadi jaksa aja, soalnya kan keinginan dari ayahku,” ujarnya
dengan suara imut yang khas. Lita berpendapat bahwa orang tua adalah segalanya,
jadi apapun itu, orang tua harus dijadikan sebagai prioritas yang utama.
Langganan:
Postingan (Atom)



