Jumat, 02 Januari 2015

Profil Lita : Orang Tua Prioritas Utama

0 komentar
Berusaha Memenuhi Keinginan Ayah
Orang Tua Prioritas Utama
Lita- Rahma
Vidia Lita Sari, atau yang kerap disapa Lita merupakan anak pertama dari 2 bersaudara dari pasangan Tri Widayati dan Suparman (Alm). Gadis kelahiran Sleman, 28 Mei 1999 ini sekarang telah menjadi siswi kelas X di SMA Negeri 6 Yogyakarta. Beralamatkan di desa Tegalrejo, Sidoluhur, Godean, Sleman, perempuan mungil berjilbab yang berusia 15 tahun ini cukup aktif dalam kegiatan pemuda-pemudi desanya, contohnya mengikuti acara bakar-bakar menyambut tahun baru 2015.
Lita mengaku bahwa dirinya merupakan sosok yang cerewet dan suka bertanya, hal tersebut menjadikannya sebagai siswi yang lumayan aktif di sekolahnya. Lita bergabung di ekstrakurikuler KIR (Karya Ilmiah Remaja) di SMA yang dikenal dengan sebutan ‘Namche’ itu, alasannya karena sekolahnya terkenal sebagai sekolah research (penelitian), sehingga membuat Lita tertarik dengan hal-hal berbau penelitian. Pecinta masakan yang seger-seger ini termasuk remaja yang cukup berprestasi, terbukti dengan masuknya Lita dalam peringkat 10 besar di kelasnya.
Gadis imut dan mungil dengan berat badan 38 kilo ini merupakan sosok yang periang dan sangat ramah, ia mengaku suka tersenyum pada orang-orang yang ia temui, bahkan sering menyapa kakak-kakak kelasnya ketika lewat. Sebenarnya Lita bercita-cita untuk menjadi dokter, namun ayahnya berkeinginan agar putri sulungnya ini menjadi jaksa atau hakim kelak, oleh karena itu Lita pun pada akhirnya berusaha untuk memenuhi keinginan orang tuanya.
“Ya, akhirnya aku mau jadi jaksa aja, soalnya kan keinginan dari ayahku,” ujarnya dengan suara imut yang khas. Lita berpendapat bahwa orang tua adalah segalanya, jadi apapun itu, orang tua harus dijadikan sebagai prioritas yang utama.
                                                        

Nusaiba : Pegang Kepercayaan Dengan Belajar

0 komentar
Nusaiba, bendahara Rohis Al-Ukhuwah
Memegang Kepercayaan dengan Belajar
Nusaiba- Rahma

Seorang gadis berjilbab duduk di serambi Mushola, kemudian meneguk air mineral yang ia bawa. Namanya Nusaiba Azzahira, gadis ini merupakan siswi kelas XI di SMAN 1 Tebing Tinggi, Sumatra Utara. Lahir di Sumatra Utara pada 21 April 1997, remaja yang memiliki hobi tidur, jalan-jalan, membaca buku, dan mencari pengalaman baru ini bercita-cita menjadi seseorang yang bekerja di bidang kesehatan.

Anak ke 4 dari 7 bersaudara dari pasangan ibu seorang guru swasta dan ayah yang bekerja sebagai DPRD Sumatra Utara ini rupanya cukup aktif di sekolahnya. Gadis dengan panggilan Nusaiba ini mengaku dipercayai menajdi sebagai bendahara di Rohis Al-Ukhuwah, organisasi keagamaan di sekolahnya.

                Menggendong amanah yang cukup besar, Nusaiba mengaku bingung saat pertama kali ditunjuk menjadi bendahara. Mau tak mau pun Nusaiba harus mampu menjaga kepercayaan itu dengan kuat. Oleh karena itu, ia aktif mencari referensi dari berbagai daerah, kemudian belajar dari rohis-rohis di sekolah lain di seluruh Indonesia. Terbukti dengan hadirnya Nusaiba di acara Silatnas Chapter Jogja, yang diadakan oleh Fornusa (Forum Antar Rohis Nusantara) di XT Square pada 24 Desember 2014 lalu.

“Sebagai bendahara rohis, aku harus banyak belajar dari rohis-rohis di sekolah lain, makanya aku ikut Silatnas di Jogja ini,” ungkap Nusaiba yang mengaku senang dengan udara di Jogja yang sejuk.  Nusaiba jauh-jauh datang dari Sumatra Utara demi dapat melihat anak-anak rohis dari seluruh nusantara, sehingga dapat dijadikan bahan referensi. Rupanya tanggung jawab yang besar membuat gadis berumur 17 tahun ini banyak belajar dari pengalaman.
               







Puisi : Teruntuk Engkau

0 komentar
Teruntuk dikau, raja dari segala kesakitan
Berkelana dengan seribu tanya, mengacungkaan pedang, takut hatinya terbunuh
Teruntuk engkau, pangeran ketakutan
Dalam lunglaimu, jutaan peluh basahi perasaan
Lalu kau tak mau keluar, apa kau takut?
Teruntuk dikau, kesatria yang kalah perang
Lari dibawa kuda, menutup telinga, menutup mata. Kesetanan
Apakah bayangan itu mengejarmu? Begitu takutkah dirimu akan hari kemarin?
Teruntuk pria, yang gagal dan jatuh
Tenggelam begitu dalam, sangat menyedihkan
Begitukah rasa takutmu, hingga luka itu mengeras, menempel pada dinding-dinding hatimu, hingga kau tak punya nyali  untuk membuka kembali?

Kamis, 01 Januari 2015

Dikejar?

0 komentar

Dikejar?
Malam ini rumah terasa sepi, ayahku pergi ke Bali. Mama menonton TV sedangkan kakakku belajar untuk UAS besok. Aku menghabiskan waktu di kamar, benar-benar tidak sehat seharian ini, tidur-bangun-tidur-bangun-makan-tidur-bangun, namun apa boleh buat? Hingga saat ini saja kantukku belum sembuh akibat begadang pada malam tahun baru kemarin. Oh iya, sekarang tanggal 1 Januari 2015, selamat tahun baru, dunia maya, orang tua, keluarga, guru-guru, teman-teman, dan juga kamu :3
Seperti yang kutuliskan sebelumnya, malam tahun baru kuhabiskan di rumah sahabatku, Lela. Tahun baru tinggal 2 jam lagi, ketika kami memutuskan untuk ke luar rumah, membeli air mineral karena tenggorokan kami serak akibat kebanyakan makan chiki. Dengan dua motor, kami berbonceng-boncengan untuk mencari indomaret terdekat (yang tetap saja jauh). Aku membonceng Nadiaz, sementara Icha berboncengan dengan Lela. Menembus dingin dan gelapnya malam, kami pun sedikit ngebut, alasannya takut. Entah takut hantu atau takut dengan gondes yang ngangkring di pinggir jalan.
Setelah beberapa lama memblusuki desa-desa, akhirnya kami menembus jalan raya. Sedikit menurunkan kecepatan untuk mencari indomaret yang ternyata TUTUP. Kami kesal kemudian memutuskan untuk pergi ke arah timur, mencari indomaret yang lain. Hingga pada akhirnya kami melihat sebuah warung kecil, namun dari jauh kelihatannya lengkap isinya. Kami pun menyebrang jalan dan berhenti di depan warung tersebut. Entah sudah sejak tadi atau baru saja, yang jelas kami awalnya tidak sadar, ada banyak gondes akut sedang menangkring di atas motor mereka sambil bersiul-siul. “Hei mbak, hei mbak” begitu kata mereka sambil bersiul-siul. Tak satu pun dari kami melirik ke arah the gondes itu, kami sangat ketakutan. Dengan tangan gemetar dan tubuh menggigil, kami langsung mengambil 2 botol air mineral besar dan segera membayarnya. Para gondes itumasih saja menggoda kami, dengan gugup dan terburu-buru kami langsung menaiki motor kami dan ingin saja segera menghilang dari tempat itu.
Kulihat para gondes itu menancapkan kunci motor mereka masih sambil memanggil-manggil kami dengan sebutan ‘mbak’. Bayang-bayang kejadian menakutkan terlintas di pikiranku, aku dan diaz lagsung pancal sejauh-jauhnya dan secepatg-cepatnya, sementara Lela dan Icha menyusul di belakang. Entah halusinasi atau apa, yang jelas aku dan Nadiaz mendengar suara motor berbondong bondong ngebut di belakang kami. Aku tak berani melihat ke belakang. Kami berteriak-teriak, menyebut nama Allah.
Siapapun itu yang dibelakang kami, dari gondes manapun itu, semoga tidak membawa pedang, ya Allah. Doaku dalam hati kala itu. Suara-suara motor itu semakin keras dan semakin mendekat, aku dan Nadiaz membaca surah Al-Fatihah sambil menggigil. Tidak terasa sampai-sampai aku ngeces. Bagaimana nasib Lela dan Icha di belakang sana? Bagaimana nasibku dan Diaz nanti? Oh Tuhan, aku benar-benar tidak sanggup membayangkannya. Jalanan sangat gelap, hingga kami kebingungan mencari pertigaan tempat kami belok menuju desa Lela. Rasanya jadi jauh sekali. Setelah ketemu, dengan sedikit mendadak kami belok. Barulah saat itu aku berani menoleh kebelakang.
9 detik setelahnya, Lela dan Icha muncul di belakang. Huft, begitu leganya aku dan Diaz. Kulihat wajah Lela yang berseri-seri dan segar, sedangkan Icha sedang senyum-senyum bermain Hp. Kok? Kok bisa? Memangnya mereka tidak takut? Atau aku dan Diaz saja yang lebay nggak ketulungan? Aku dan Diaz terheran-heran dengan pola pikir mereka, di situasi yang genting seperti ini, bisa-bisanya mereka santai, sedangkan aku dan Diaz sudah berteriak-teriak seakan mau mati saja.
“Lha wong nggak ada yang ngejar kita, kok” kata Icha santai, lalu lanjut bermain hape.
Gubrak! Aku dan Diaz mlengos.

Rabu, 31 Desember 2014

Empat Setali

0 komentar

Malam ini merupakan malam terakhir di tahun 2014. Lalu apa? Artinya besok adalah pagi pertama di tahun 2015. Malam tahun baru kali ini kuhabiskan bersama sahabat-sahabat terbaiku. Sahabat yang tak pernah tergantikan, yang tak pernah kulupakan. Malam ini kami bermalam di salah satu rumah sahabat kami, Lela. Malam ini, aku, Lela, Diaz, Icha, berkumpul setelah berbulan-bulan lamanya tidak bertemu. Penghabisan tahun 2014 kami lakukan di rumah saja, cukup di kamar tidur, dengan bantal dan selimut di tubuh kami, menceritakan segalanya yang terpendam selama kami tak berkumpul.
Terkadang kami diam, terkadang kami sangat berisik. Namun apapun itu suasananya, selalu membawaku pada titik kenyamanan tertinggi. Orang bilang jika satu sama lain saling diam, namun mereka tidak merasa canggung sama sekali, itu artinya mereka sudah nyaman dan sudah cocok. Biasanya hubungan seperti itu akan selalu hangat dan selalu bertahan. Itulah yang ku rasakan, bersama sahabat-sahabat semasa SMP yang super. Sahabat yang terbuka, yang sangat toleran, yang memaklumi, yang tidak gengsi, yang mampu menjaga perasaan satu sama lain, dan berusaha untuk tidak menyakiti. Itu merupakan definisi persahabatan yang sempurna, menurutku.
Malam ini, Diaz dan Icha sedang asyik mendebatkan skandal artis korea, entah itu infinite, exo, winner, atau apalah itu, aku hanya paham sedikit. Oleh karenanya aku mengambil laptop, kemudian berencana menuliskan tentang mereka, diiringi suara keras mereka yang heboh. Sesekali aku tersenyum, mendengarkan pembicaraan mereka yang berbeda dari saat kami SMP dulu. Dulu mereka tidak kenal Kpop, sekarang mereka tergila-gila. Malam ini Lela sang tuan rumah sedang menghadiri acara pemuda di desanya. Rencananya kami akan menunggu hingga sang tuan rumah pulang, untuk menghitung mundur tibanya tahun 2015. Tak perlu kembang api yang memenuhi langit, tak perlu sosis atau jagung bakar, tak perlu pergi ke tempat hiburan. Cukup di sini, di rumah Lela, kami akan berdoa menyambut tahun baru. Cukup dengan senyum lebar mengambang di bibir kami. Cukup dengan kebersamaan satu malam yang jarang-jarang kami dapat.
Saat aku menuliskan ini, Lela sudah datang. Lengkap sudah ‘kami’, persahabatan yang kami beri nama 4 setali. 4 setali, karena kami terdiri dari 4 remaja perempuan yang bersama-sama tumbuh, menghadapi pertemuan, perpisahan, 4 remaja yang telah mengalami jatuh cinta dan patah hati begitu saja. 4 remaja itu terikat dalam sebuah tali, terikat oleh perjanjian persahabatan kami, perjanjian yang tak pernah dibuat, namun selalu melekat dalam hati kami. Bahwa kami akan selalu ada, bahwa kami selalu setia, bahwa kami sahabat selamanya. Perjanjian itu semu, namun nampak nyata di depan mata. Masing-masing dari kami akan mewujudkannya.
Malam tahun baru kali ini, kami merayakan dengan sederhana. Berdoa agar 2015 membawa perubahan baik bagi kami, namun tidak pada 4 setali. Kami akan terus seperti ini.

Selasa, 30 Desember 2014

puisi : Tulis

0 komentar

Tulis

Bukan kalimat puitis
Bukan syair yang miris
Bukan coretan sadis
Juga tak buatmu menangis

Inilah yang kutulis
Hanya bait bait tipis
Yang kalimatnya berupa tangis
Dari hati yang habis terkikis
Yang terbelah seribu lapis

Senin, 29 Desember 2014

Tragedi Pukul Satu #3

0 komentar

Ini gila, ini gila! Rasanya ingin mengumpat tapi pada siapa? Ku keluarkan isi tas hitam polos itu dan benar saja, ada kunci motor dan charger handphone di dalamnya. Lalu tiba-tiba wgg ngechat aku.

Sebuah tas rahh

Tak bawa

Oh tidak

 Soalnya tadi buat nyimpen semua barang yang ketinggal

Ada kuncine aku gabisa pulang

Piee

Hoo Edan

HOOO EDANNNNN! AKU INGIN MARAH NAMUN SEBENARNYA SIAPA YANG SALAH? Mungkin wgg menyalahkanku dan aku menyalahkan semua orang yang meninggalkan barang-barang begitu saja.

Aku baru sampe rumah

 Terus gimana gg? Maaf ya maaf banget

 Rumahmu mana?

What? Niat beneran nih mau ke rumahku? Edan ini edan, dan jam menunjukan pukul 1:18 dini hari

Lha tadi tu harus steril

Godean ._.

Sebelah mana nee

Saestu tak tekani

Pasar godean ke utara

 Cod di mana gitu, skrg. Saestu

Oh My God! Dini hari seperti ini? Motor dan mobil sudah masuk semua, lampu rumah juga mati, semua orang tidur dan hanya aku yang masih hidup dalam kebingungan luar biasa seperti ini.

sumpah? Mbok kamu nginep dulu

 Sumpah gabisa pulang, aku pamit e ga nginep

 mana?? Ringroad??

Sumpah ya, rasanya itu sudah benar-benar terdesak. Saat itu mungin semua sedang genting, wgg benar tidak bisa pulang dan aku lah yang membawa kunci motornya. Oh tidak!! Aku ingin saja pancal langsung ke tby lagi. Namun gimana caranya? Masa iya aku naik motor sendiri di dini hari seperti itu? Apalagi sekarang kan pada bacok-bacokan modelnya, masa iya? Tapi masa aku membangunkan ayahku yang baru saja tidur? Oh i really didn’t know what to do.

Ringroad mana? Rumahku dah dikunci

Tenanan iki uyyyy

Ringroad barat

Jauh banget dari rumahku

Opo meneh tby, edan tenan

Ambil tengahe mana??



Skip. Skip



Sumpah bangunin, ngomong. Saestuu

Bentar ya

Tak otw, mana ketemune?

P4an demakijo piye?

Fix??

Saiki???????

Ya

Aku mengetuk-ketuk kamar orang tua ku, ayahku bangun lalu menghampiriku. Dengan hati-hati aku bicara yang sebenarnya dan meminta bantuannya untuk mengantarku. Alhamdulillah beliau mau. Motor pun dikeluarkan. Aku segera memakai jaket dan kerudung dan menyiapkan tas hitam polos milik wgg.

                Tak tunggu di demakijo. Aku semenit lg otw

                Oke sakdetik otw

Aku dan ayahku pun berangkat sengaja pelan-pelan, agar tidak menunggu terlalu lama di demakijo. Jalanan benar-benar sepi, bulu kudukku berdiri karena aku membayangkan yang ngeri-ngeri. Beberapa saat kemudian aku dan ayah hampir sampai di demak ijo.

                5 detik lagi aku sampe demakijo

                Km posdim?

                Jl godean udahan

                Aku dah sampe. Tak tunggu di barat p4an. Aku berhenti sama bpkku

                15 detik hitungan mundur

Aku tertawa kesal, lalu benar-benar ku hitung 15 detik itu. Namun wgg belum tampak

                15 detik

                1 kali lagi

                15 detik

                2 detik

                2

Kali itu wgg tepat, dalam hitungan 2 detik, ia berboncengan dengan rizqi mendekatiku. Kami tersenyum kesal menyiratkan gilanya kejadian ini. Setengah 2 malam brooo!!! Kedua lako-laki itu bersalaman dengan ayahku dan juga meminta maaf pada beliau karena telah merepotkan. Setelah sedikit basa-basi dan setelah aku minta maaf—wgg minta maaf—wgg berterima kasih, kami pun pulang. Sebelumnya wgg sempat tertawa padaku lalu bilang, “Edan tenan” aku pun hanya tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. Lega benar-benar lega! Gila benar-benar gila! Aku tak menyangka kejadian itu benar-benar terjadi. Aku tak menyangka aku senekat itu berani keluar pada dini hari yang sangat sunyi itu.

Biarlah tragedi pukul satu itu menjadi pelajaran untuk semuanya. Aku pun mendapat beberapa pelajaran, yang pertama, sebingung dan segenting apapun itu, tahanlah emosi. Yang kedua, di saat-saat genting, seseorang dapat mengambil keputusan dengan sangat cepat bahkan hanya dengan beberapa detik saja. Yang ketiga, percayalah everything will gonn be okay pada akhirnya, dan semua masalah itu ada solusinya.

Oke kisah edan ini ku akhiri. Semoga pengalaman-pengalaman unik dan berharga sudah menunggu di depan sana. Bhayyy!!
 

Satu Cangkir Teh Tawar Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template